Hari Raya Galungan dan Kuningan: Kemenangan Dharma, Penjor, dan Perayaan Terbesar Umat Hindu Bali

Dua kali dalam setahun, ribuan batang bambu setinggi delapan meter berdiri tegak di sepanjang jalan-jalan Bali. Masing-masing melengkung anggun di ujungnya, dihias janur kuning, pisang, padi, dan aneka hasil bumi. Itulah penjor — penanda bahwa Hari Raya Galungan telah tiba.

Bagi umat Hindu di Bali, Galungan bukan sekadar hari libur. Ini adalah momen ketika kebenaran merayakan kemenangannya atas kejahatan, ketika para leluhur turun ke bumi untuk mengunjungi keturunannya, dan ketika setiap sudut pulau berubah menjadi tempat ibadah yang hidup. Sepuluh hari kemudian, Kuningan menutup rangkaian perayaan dengan doa dan persembahan berwarna kuning.

Bersama-sama, Galungan dan Kuningan membentuk salah satu siklus perayaan paling sakral dan paling indah secara visual di seluruh Asia Tenggara.

Apa Itu Hari Raya Galungan?

Hari Raya Galungan adalah perayaan terbesar umat Hindu di Bali yang dirayakan setiap 210 hari sekali berdasarkan kalender Pawukon Bali. Perayaan ini jatuh tepat pada hari Buda (Rabu) Kliwon wuku Dungulan — yaitu hari Rabu dengan pasaran Kliwon pada minggu ke-11 (wuku Dungulan) dalam siklus Pawukon.

Kata Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti "menang" atau "bertarung". Di Bali, istilah lain yang digunakan adalah wuku Dungulan, yang juga bermakna kemenangan. Inti perayaan ini adalah peringatan kemenangan Dharma (kebenaran, kebaikan) atas Adharma (kejahatan, kebatilan).

Galungan juga dimaknai sebagai Rerahinan Gumi — hari raya semesta yang wajib dirayakan oleh seluruh umat Hindu Bali. Kepercayaan umat menyebutkan bahwa pada hari Galungan, roh para leluhur yang telah meninggal dan menjalani kremasi akan pulang mengunjungi keturunannya di dunia. Menjadi kewajiban bagi keluarga yang masih hidup untuk menyambut mereka dengan doa, persembahan, dan ketulusan hati.

Sejarah Galungan: Dari Tahun 882 Masehi

Asal-usul Galungan tercatat dalam naskah kuno Lontar Purana Bali Dwipa. Menurut catatan ini, Galungan pertama kali dirayakan pada tahun Saka 804 atau 882 Masehi, tepatnya pada malam bulan purnama Purnama Kapat. Ini menjadikan Galungan salah satu hari raya Hindu tertua yang masih dirayakan secara aktif di dunia.

Mantan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha Departemen Agama RI, Drs. I Gusti Agung Gede Putra, memperkirakan bahwa Galungan sudah dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia sebelum akhirnya menjadi paling populer di Pulau Bali.

Perayaan sempat terhenti beberapa kali sepanjang sejarah, namun dihidupkan kembali pada masa pemerintahan Raja Sri Jayakasunu. Sejak saat itu, Galungan dirayakan tanpa putus oleh umat Hindu Bali hingga hari ini — mengikuti siklus 210 hari yang konsisten.

Mitologi Galungan: Raja Mayadenawa dan Kemenangan Bhatara Indra

Di balik Galungan terdapat sebuah kisah mitologi yang menjadi jiwa dari perayaan ini. Kisah ini bercerita tentang Raja Mayadenawa — penguasa sakti yang sombong dan ingkar kepada para dewa. Mayadenawa melarang seluruh rakyatnya beribadah dan memaksa mereka menyembah dirinya sendiri. Ia melambangkan Adharma dalam wujud kekuasaan yang sewenang-wenang.

Sikap Raja Mayadenawa membuat para dewa murka. Seorang pemuka agama bernama Mpu Sangkul Putih pun bersemedi memohon pertolongan. Bhatara Indra (manifestasi Tuhan sebagai penguasa sorga dan lambang Dharma) turun tangan menghadapi Mayadenawa. Pertempuran besar pun terjadi. Meski Mayadenawa sempat menggunakan berbagai tipu muslihat, pada akhirnya Dharma menang — Mayadenawa berhasil dikalahkan.

Kemenangan Bhatara Indra inilah yang dirayakan setiap Galungan. Namun Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat menekankan bahwa makna terdalam Galungan bukan sekadar peringatan mitologi. Pertarungan sesungguhnya terjadi dalam diri setiap manusia — perjuangan melawan hawa nafsu, keserakahan, iri hati, dan kemarahan yang disebut Sad Ripu atau Sapta Timira. Galungan adalah pengingat bahwa manusia harus mampu mengendalikan nafsu-nafsu tersebut agar Dharma menang dalam kehidupan sehari-hari.

Kalender Pawukon: Mengapa Galungan Bisa Dua Kali Setahun

Kalender Pawukon adalah sistem penanggalan khas Bali yang terdiri dari 210 hari dalam satu siklus penuh. Ini berbeda dengan kalender Masehi yang memiliki 365 hari. Karena perbedaan ini, dalam satu tahun Masehi biasanya terjadi dua kali Galungan — dan dua kali pula Kuningan.

Kalender Bali sendiri merupakan perpaduan tiga sistem penanggalan: sistem Saka (dari India, berlaku sejak 78 Masehi), sistem Pawukon (siklus 210 hari), dan sistem wewaran (siklus hari yang beragam). Ketiga sistem ini dipadukan untuk menentukan hari-hari suci Hindu dengan presisi yang luar biasa — menetapkan bukan hanya tanggal, tapi jam, bahkan menit pelaksanaan ritual tertentu.

Jadwal Galungan dan Kuningan 2025-2026

Berikut adalah tanggal-tanggal resmi Galungan dan Kuningan berdasarkan penetapan Ditjen Bimbingan Masyarakat Hindu, Kementerian Agama RI:

Tahun 2025:

  • Rabu, 23 April 2025 — Hari Raya Galungan (pertama)
  • Sabtu, 3 Mei 2025 — Hari Raya Kuningan (pertama)
  • Rabu, 19 November 2025 — Hari Raya Galungan (kedua)
  • Sabtu, 29 November 2025 — Hari Raya Kuningan (kedua)

Tahun 2026:

  • Rabu, 17 Juni 2026 — Hari Raya Galungan
  • Sabtu, 27 Juni 2026 — Hari Raya Kuningan

Catatan penting: Galungan dan Kuningan bukan hari libur nasional, melainkan libur fakultatif bagi umat Hindu. Pemerintah Provinsi Bali menetapkan dispensasi libur khusus bagi warganya, sementara di luar Bali, karyawan atau ASN yang beragama Hindu berhak mendapat izin dari instansi masing-masing untuk merayakannya.

Rangkaian Perayaan Galungan: Seminggu Penuh Ritual

Galungan bukanlah perayaan satu hari. Ada rangkaian ritual selama kurang lebih satu pekan sebelum dan sesudahnya — masing-masing dengan nama khusus dan makna spiritual tersendiri.

Tumpek Wariga — 25 Hari Sebelum Galungan

Tumpek Wariga adalah hari penghormatan kepada tumbuh-tumbuhan dan alam. Umat Hindu mempersembahkan sesaji berupa bubuh sumsum berwarna empat: putih, merah, hijau (gadang), dan kuning — melambangkan empat jenis tumbuhan. Ritual ini wujud syukur dan permohonan agar tanaman terus subur, berbunga, dan berbuah.

Sugihan Jawa — 6 Hari Sebelum Galungan

Kata sugihan berasal dari kata sugi yang artinya suci dan bersih, sedangkan Jawa berasal dari kata jaba yang berarti luar. Sugihan Jawa adalah ritual penyucian alam semesta atau Bhuana Agung — membersihkan dunia luar dari pengaruh negatif. Upacara ini dilakukan pada hari Kamis Wage wuku Sungsang.

Sugihan Bali — 5 Hari Sebelum Galungan

Jika Sugihan Jawa membersihkan dunia luar, Sugihan Bali adalah penyucian diri sendiri atau Bhuana Alit — dunia dalam (tubuh dan jiwa manusia). Ini adalah persiapan batin sebelum menyongsong Galungan.

Penyekeban — 3 Hari Sebelum Galungan

Penyekeban jatuh pada hari Minggu Pahing wuku Dungulan. Secara harfiah, penyekeban berarti "mengekang" — dan makna filosofisnya adalah nyekeb indriya, yaitu mengekang indra dan hawa nafsu agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan agama. Pada hari ini juga, secara praktis, pisang kepok atau pisang raja mulai disimpan (disekapkan) dalam wadah tertutup agar matang sempurna untuk persembahan.

Penyajaan — 2 Hari Sebelum Galungan

Penyajaan berasal dari kata saja (Bali: sungguh-sungguh, serius). Ini adalah hari untuk memantapkan diri menyongsong Galungan. Tradisi menyebutkan bahwa pada hari ini Sang Bhuta Dungulan akan menggoda umat untuk menguji sejauh mana pengendalian diri mereka. Bagi yang kuat imannya, godaan itu tidak akan berhasil.

Penampahan Galungan — Sehari Sebelum Galungan

Penampahan Galungan adalah hari paling sibuk dalam rangkaian Galungan. Pada hari Selasa Wage wuku Dungulan ini, dua pekerjaan besar serentak dilakukan. Pertama, pembuatan penjor — tiang bambu hias yang akan dipancangkan di depan rumah. Kedua, penyembelihan babi untuk persiapan makanan upacara dan perjamuan keluarga.

Penyembelihan babi pada Penampahan Galungan mengandung makna simbolis yang dalam: membunuh semua nafsu kebinatangan (adharma) yang ada dalam diri manusia. Kepercayaan Bali juga menyebutkan bahwa pada hari ini para leluhur sudah mulai mendatangi rumah keturunannya — maka umat menyiapkan suguhan khusus berupa nasi, lauk-pauk, jajanan, buah, kopi, air, dan lekesan (sirih dan pinang) yang ditujukan kepada leluhur.

Hari Raya Galungan

Pagi hari Galungan dimulai dengan persembahyangan di sanggah keluarga (pura keluarga di dalam rumah), dilanjutkan ke pura banjar (komunitas), dan kemudian ke pura-pura besar di desa. Banyak perantau yang pulang kampung khusus untuk bersembahyang bersama keluarga — mirip seperti tradisi mudik Lebaran dalam perayaan Islam. Setelah sembahyang, keluarga berkumpul, saling mengunjungi, dan menikmati hidangan bersama.

Umanis Galungan — Sehari Setelah Galungan

Umanis berarti manis atau gembira. Ini adalah hari kegembiraan pasca-Galungan. Umat saling mengunjungi keluarga dan sahabat, anak-anak bermain, dan suasana desa lebih santai.

Kuningan — 10 Hari Setelah Galungan

Hari Raya Kuningan jatuh pada hari Sabtu Kliwon wuku Kuningan — tepat 10 hari setelah Galungan. Kata "Kuningan" dipercaya berasal dari kata kuning, melambangkan kemuliaan dan kesejahteraan. Pada hari Kuningan, umat Hindu meyakini bahwa para Dewa dan Bhatara (dalam manifestasi sebagai Dewa Mahadewa) turun ke bumi memberikan kemakmuran dan berkat — namun hanya sampai tengah hari. Karena itu, seluruh ritual Kuningan harus selesai sebelum pukul 12.00 siang.

Persembahan pada Kuningan menggunakan warna kuning sebagai simbol kemakmuran. Nasi kuning, kue berwarna kuning, dan perlengkapan upacara bernuansa emas mendominasi altar dan sesajen. Kuningan juga menjadi hari ketika roh leluhur pamit kembali ke alam niskala (alam para roh) — dan umat berdoa memohon agar berkat dan perlindungan yang diberikan para leluhur tetap menyertai mereka.

Penjor: Simbol Kemenangan yang Menghiasi Bali

Penjor adalah ikon paling khas dari perayaan Galungan. Setiap rumah tangga Hindu Bali memasang satu penjor di depan pagar atau gerbang rumahnya — sehingga jalan-jalan Bali berubah menjadi lorong bambu yang megah dan sakral.

Penjor terbuat dari sebatang bambu dengan ujung melengkung alami. Bambu dihiasi secara khas dengan:

  • Janur (daun kelapa muda) yang dianyam menjadi berbagai bentuk dekoratif
  • Kain putih atau kuning yang dililitkan di batang
  • Hasil bumi: pisang, padi, umbi-umbian, buah-buahan
  • Sanggah cerukcuk (altar mini di ujung penjor) berisi persembahan kecil

Ada dua jenis penjor: Penjor Upacara yang digunakan khusus dalam konteks keagamaan seperti Galungan dan Kuningan, lengkap dengan perlengkapan suci dan sanggah cerukcuk; dan Penjor Pepenjoran yang digunakan sebagai dekorasi pada acara non-keagamaan seperti pernikahan, bersifat lebih artistik tanpa muatan ritual penuh.

Secara filosofis, penjor melambangkan Gunung Agung — gunung tertinggi dan paling sakral di Bali. Lengkungan bambu mewakili tubuh Naga Basuki, kekuatan bumi yang memberi keseimbangan dan kesuburan. Keseluruhan penjor adalah ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) atas segala anugrah yang telah dilimpahkan.

Di Jawa, penjor juga dikenal, namun penggunaannya berbeda — di sana penjor lebih sering menjadi penanda lokasi pernikahan atau acara adat, bukan sarana upacara sakral.

Umanis berarti manis atau gembira. Ini adalah hari kegembiraan pasca-Galungan. Umat saling mengunjungi keluarga dan sahabat, anak-anak bermain, dan suasana desa lebih santai. Tradisi ngelawang (mengarak barong keliling desa) juga sering dilakukan pada Umanis Galungan di beberapa desa.

Galungan identik dengan cita rasa khas Bali yang kaya dan harum. Beberapa hidangan wajib hadir di setiap meja perayaan.

Lawar

Lawar adalah hidangan ritual yang paling ikonik di Galungan. Terbuat dari campuran sayuran cincang, daging (biasanya babi atau ayam), kulit, dan kelapa parut yang diberi bumbu base genep — rempah-rempah lengkap khas Bali. Ada lawar merah (dengan darah segar yang dicampur) dan lawar putih (tanpa darah). Tradisi membuat lawar bersama-sama di banjar (komunitas) disebut ngelawar, bermakna kedekatan, kesetaraan, dan kebersamaan.

Babi Guling

Babi guling adalah hidangan paling prestis di Galungan — babi utuh yang dipanggang dengan cara diputar (guling) di atas bara api selama beberapa jam. Bumbu baluran khas Bali meresap ke dalam daging, menghasilkan cita rasa yang tak tertandingi. Babi guling biasanya disiapkan sehari sebelum Galungan dan menjadi sajian utama perjamuan keluarga besar.

Jaje (Kue Tradisional)

Pembuatan jaje atau kue-kue tradisional Bali dilakukan pada hari Penyajaan. Berbagai jenis kue dari tepung beras atau ketan, seperti jaje uli, jaje gina, dan dodol Bali, dibuat sebagai bagian dari persembahan dan camilan perayaan.

Tradisi Ngejot dan Ngelawar

Dua tradisi sosial yang memperkuat rasa persaudaraan selama Galungan adalah ngejot dan ngelawar.

Ngejot adalah tradisi berbagi makanan kepada sesama — baik kepada tetangga sesama Hindu maupun kepada tetangga non-Hindu. Makanan yang dibagikan adalah hasil dari sesajen yang sudah dihaturkan dalam sembahyang. Tradisi ini mencerminkan semangat berbagi dan kerukunan antarumat beragama — umat Hindu Bali sering mengantarkan daging dan lauk Galungan ke rumah tetangga Muslim atau Kristen mereka.

Ngelawar adalah proses membuat lawar secara gotong royong di balai banjar. Para pria berkumpul sejak dini hari, memotong, mencincang, dan meramu bahan-bahan lawar bersama-sama. Suara pisau yang berirama di atas talenan kayu adalah salah satu suara paling khas malam Penampahan Galungan di setiap desa Bali.

Tradisi Barong Landung dan Ngelawang

Di beberapa desa Bali, Galungan juga diramaikan oleh tradisi ngelawang — barong (sosok magis berbentuk singa raksasa) diarak keliling kampung dari rumah ke rumah. Barong diyakini membawa keselamatan dan mengusir roh jahat. Anak-anak mengiringi dengan gamelan kecil, sementara pemilik rumah menyambut dengan persembahan kecil.

Di beberapa desa seperti Trunyan dan desa-desa Bali Aga (Bali asli), ada tradisi mengarak barong bangkal (barong babi hutan) memasuki pintu rumah warga, banjar, dan desa sebagai simbol perlindungan.

Galungan dan Pariwisata Bali

Hari Raya Galungan dan Kuningan telah menjadi magnet pariwisata yang luar biasa bagi Bali. Wisatawan domestik dan mancanegara yang beruntung berada di Bali saat Galungan tiba akan menyaksikan pemandangan yang tidak ada duanya: ribuan penjor berjejer di sepanjang jalan, prosesi umat berpakaian adat putih dan kuning, aroma dupa yang mengepul dari setiap sudut, dan suara gamelan yang mengalun dari pura-pura.

Penjor sendiri sudah menjadi salah satu daya tarik fotografi paling populer di Bali — menarik perhatian fotografer profesional dari seluruh dunia. Bagi wisatawan, momen Galungan adalah kesempatan langka untuk menyaksikan bagaimana spiritualitas benar-benar menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali secara organik, bukan sebagai pertunjukan untuk turis.

Galungan di Luar Bali

Meski identik dengan Bali, Galungan juga dirayakan oleh komunitas Hindu di luar Bali — di Jawa Timur (khususnya Banyuwangi dan Tengger), Lombok, Sulawesi, dan kota-kota besar dengan komunitas Hindu Bali yang signifikan seperti Jakarta, Surabaya, dan Denpasar di pulau-pulau lain.

Umat Hindu Bali yang merantau ke kota-kota besar sering kali pulang kampung (mulih) saat Galungan — membuat jalur-jalur transportasi dari dan ke Bali lebih padat di sekitar perayaan, serupa dengan fenomena mudik Lebaran dalam skala yang lebih kecil.

Pertanyaan Umum tentang Galungan dan Kuningan

Apakah Galungan hari libur nasional di Indonesia?

Galungan dan Kuningan bukan hari libur nasional, melainkan libur fakultatif bagi umat Hindu. Pemerintah Provinsi Bali menetapkan dispensasi libur khusus bagi warganya. Di luar Bali, umat Hindu yang ingin merayakannya dapat memohon izin kepada instansi atau perusahaan tempat mereka bekerja, sebagaimana diatur dalam surat edaran Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI.

Mengapa Galungan bisa terjadi dua kali dalam setahun?

Karena Galungan dihitung berdasarkan kalender Pawukon Bali yang bersiklus 210 hari — bukan 365 hari seperti kalender Masehi. Karena 365 hari dibagi 210 hari menghasilkan 1,7 siklus, maka dalam satu tahun Masehi biasanya ada dua kali Galungan. Khusus tahun 2026, hanya ada satu kali Galungan karena posisi kalender.

Apa perbedaan Galungan dan Kuningan?

Galungan adalah puncak perayaan yang menandai kemenangan Dharma dan kedatangan para leluhur ke bumi. Kuningan, 10 hari kemudian, adalah hari permohonan berkat dan keselamatan — sekaligus saat para leluhur dan dewa berpamitan kembali ke alam niskala. Semua ritual Kuningan harus selesai sebelum pukul 12.00 siang karena setelah itu energi spiritual yang diturunkan dianggap telah kembali.

Bolehkah wisatawan non-Hindu ikut menyaksikan Galungan di Bali?

Ya. Umat Hindu Bali terkenal dengan sikap terbuka dan ramahnya kepada siapa pun yang ingin menyaksikan atau belajar tentang tradisi mereka. Wisatawan dipersilakan mengunjungi pura selama mengenakan pakaian sopan, menggunakan kain dan selendang yang biasanya tersedia di pintu masuk pura. Tidak dianjurkan masuk ke area suci pura (jeroan) bagi yang tidak bersembahyang, dan diminta untuk tidak memfoto saat prosesi berlangsung tanpa izin.

Apa makna penjor?

Penjor adalah representasi Gunung Agung dan Naga Basuki — simbol kemakmuran, kesuburan, dan keseimbangan alam. Kehadirannya di depan setiap rumah adalah ekspresi syukur kepada Tuhan atas seluruh anugerah kehidupan. Setiap elemen penjor memiliki makna tersendiri: janur melambangkan kesucian, hasil bumi melambangkan kemakmuran, dan batang bambu melambangkan kekuatan yang lentur — teguh namun mampu membungkuk tanpa patah.

Sumber

3. Kecamatan Buleleng, Pemerintah Kabupaten Buleleng. "Hari Raya Galungan dan Kuningan." https://buleleng.bulelengkab.go.id

4. Tirto.id. "Sejarah Hari Raya Galungan dan Maknanya Bagi Umat Hindu-Bali." https://tirto.id/sejarah-hari-raya-galungan-dan-maknanya-bagi-umat-hindu-bali-eeXH

5. Detik.com. "Hari Raya Galungan dan Kuningan: Makna hingga Tradisi Pelaksanaanya di Bali." https://www.detik.com/bali/budaya/d-7198224/

6. Kompas Travel. "Hari Raya Galungan di Bali, Ada Tradisi Penjor yang Memukau Wisatawan." April 2025. https://travel.kompas.com/

7. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat. Penjelasan resmi makna Galungan. https://phdi.or.id

8. Eiseman, Fred B. Jr. Bali: Sekala and Niskala Vol. I: Essays on Religion, Ritual and Art. Periplus Editions, 1989.

9. Detik.com. "Jadwal Galungan dan Kuningan 2026, Apakah Ada Libur Nasional?" https://news.detik.com/berita/d-8292341/

10. IDN Times Bali. "Jadwal Lengkap Hari Raya Besar Hindu 2026." https://bali.idntimes.com/

Kalender Libur Nasional Indonesia