Hari Raya Waisak di Indonesia: Tri Suci Waisak, Candi Borobudur, dan Tradisi Umat Buddha Nusantara
Setiap tahun, ketika bulan purnama menyinari langit Jawa Tengah di bulan Mei, ribuan titik cahaya naik perlahan ke angkasa. Lampion-lampion kertas putih, merah, dan emas itu terbang dalam sunyi yang khusyuk, membawa doa-doa ke langit malam. Di bawahnya, Candi Borobudur berdiri kokoh — candi Buddha terbesar di dunia — dikelilingi oleh para bhikkhu berjubah jingga dan puluhan ribu umat yang duduk bersila dalam meditasi.
Inilah puncak perayaan Hari Raya Waisak di Indonesia — momen yang memadukan spiritualitas Buddha dengan keindahan alam Nusantara dan kekayaan budaya yang sudah berakar sejak lebih dari satu milenium lalu.
Apa Itu Hari Raya Waisak?
Hari Raya Waisak — dikenal pula sebagai Vesak, Wesak, atau Visakha Puja di berbagai negara — adalah hari raya terpenting dalam agama Buddha. Nama Waisak berasal dari dua kata: Vaisakha dalam bahasa Sansekerta dan Vesakha dalam bahasa Pali, yang merujuk pada nama bulan kelima dalam kalender Buddhis.
Di Indonesia, Waisak secara resmi disebut Hari Raya Tri Suci Waisak — "Tri Suci" berarti tiga hal yang dimuliakan. Kata tersebut merujuk pada tiga peristiwa penting yang diperingati secara bersamaan dalam satu perayaan: kelahiran, pencerahan agung (Bodhi), dan wafatnya (Parinibbana) Buddha Gautama. Ketiga peristiwa ini diyakini terjadi pada hari yang sama — saat bulan purnama di bulan Waisak — meski pada tahun yang berbeda.
Waisak ditetapkan sebagai hari libur nasional resmi di Indonesia. Penetapan ini tertuang pertama kali dalam Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1983 yang dikeluarkan pada masa Orde Baru. Keppres tersebut bertujuan meningkatkan kemantapan peribadatan bagi umat Buddha dan Hindu di Indonesia. Setiap tahun, tanggal resmi Waisak ditetapkan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri — Kementerian Agama, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara.
Tiga Peristiwa Suci dalam Tri Suci Waisak
Inilah inti dari seluruh perayaan Waisak. Tiga peristiwa ini adalah fondasi ajaran dan sejarah agama Buddha.
Kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama
Peristiwa pertama adalah kelahiran Bodhisattva (calon Buddha) Siddhartha Gautama di Taman Lumbini, Nepal, pada tahun 623 Sebelum Masehi. Ia adalah putra dari Raja Suddhodana dan Ratu Mahamaya dari Kerajaan Kapilavastu.
Kitab suci Buddha mengisahkan bahwa kelahiran Siddhartha bukan kelahiran biasa. Setelah dilahirkan, ia dikisahkan langsung mampu berjalan tujuh langkah, dan pada setiap jejak langkahnya tumbuh bunga teratai. Ia kemudian mengucapkan pernyataan bahwa inilah kelahiran terakhirnya dan ia akan mencapai kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian (samsara). Para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala meramalkan bahwa kelak Siddhartha akan menjadi seorang Chakrawatin (Maharaja Dunia) atau seorang Buddha yang membawa pencerahan bagi umat manusia.
Penerangan Agung di Bawah Pohon Bodhi
Peristiwa kedua adalah pencapaian Penerangan Agung oleh Siddhartha Gautama. Ketika berusia 29 tahun, pangeran yang hidup dalam kemewahan istana itu meninggalkan segalanya — kekayaan, tahta, keluarga — setelah menyaksikan penderitaan rakyat jelata. Ia pergi mengembara mencari kebenaran sejati.
Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan asketis dan belajar meditasi dari berbagai guru spiritual, pada usia 35 tahun Siddhartha Gautama duduk bersila di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya, Bihar, India. Setelah meditasi mendalam selama 49 hari, ia mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha — "Yang Tercerahkan." Menurut tradisi Buddha, saat mencapai penerangan agung itu, tubuh sang Buddha memancarkan enam sinar dengan warna: biru (bhakti/kepercayaan), kuning (kebijaksanaan), merah (kasih sayang), putih (kesucian), jingga (semangat), dan sinar campuran kesemuanya. Keenam warna inilah yang menjadi dasar bendera Buddha yang digunakan hingga hari ini.
Setelah mencapai pencerahan, Buddha Gautama berkelana selama 45 tahun menyebarkan Dharma — kebenaran ajaran tentang jalan menuju kebebasan dari penderitaan.
Parinibbana: Wafatnya Sang Buddha
Peristiwa ketiga dan terakhir adalah Parinibbana — wafatnya Sang Buddha pada usia 80 tahun di Kusinara (kini Kushinagar, Uttar Pradesh, India) pada tahun 543 SM. Ini adalah parinirvana — wafat dengan kesadaran penuh, memasuki kondisi nirvana yang sempurna setelah melepaskan ikatan dengan dunia sepenuhnya.
Wafatnya Buddha menjadi momen reflektif bagi para pengikutnya untuk melanjutkan praktik ajarannya. Sang Buddha berpesan: jangan bergantung pada sosoknya, melainkan pada Dharma (ajaran) dan Vinaya (aturan kebhikkhuan) sebagai guru sejati.
Sejarah Waisak di Indonesia: dari Sriwijaya hingga Borobudur
Agama Buddha masuk ke Indonesia pada awal Masehi melalui jalur perdagangan maritim. Letak Indonesia yang strategis — di persimpangan jalur dagang antara India dan China — membuatnya menjadi titik penyebaran berbagai agama dan kebudayaan.
Pengelana Tiongkok bernama Fa Hien disebut sebagai salah satu pembawa awal agama Buddha ke kepulauan ini. Kerajaan Buddha pertama yang berdiri di Indonesia adalah Kerajaan Sriwijaya di Sumatera pada abad ke-7 Masehi. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menjadi pusat pendidikan dan pengembangan agama Buddha terbesar di Asia Tenggara. Para cendekiawan Buddha dari India, Tibet, dan China berdatangan ke Sriwijaya untuk belajar.
Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 750-850 Masehi pada masa Dinasti Syailendra dari Kerajaan Mataram Kuno. Dengan 504 arca Buddha, 2.672 panel relief, dan 72 stupa, Borobudur adalah monumen Buddha terbesar di dunia. Candi ini dirancang sebagai mandala tiga dimensi yang melambangkan perjalanan spiritual menuju pencerahan.
Tradisi perayaan Waisak di Candi Borobudur secara resmi dimulai pada tahun 1929, diinisiasi oleh Himpunan Teosofi Hindia Belanda yang beranggotakan campuran orang Eropa dan Jawa ningrat. Setahun kemudian, pada 1930, Candi Borobudur resmi dijadikan pusat perayaan Waisak.
Perayaan sempat terhenti dua kali: pertama selama revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949), kemudian saat pemugaran besar Candi Borobudur pada 1973. Selama pemugaran, pusat perayaan dipindah sementara ke Candi Mendut. Perayaan di Borobudur kembali berjalan setelah pemugaran selesai dan berlanjut tanpa terputus hingga hari ini.
Status Borobudur sebagai pusat ibadah agama Buddha bagi masyarakat Indonesia dan dunia diperkuat secara resmi melalui nota kesepakatan empat kementerian dan dua pemerintah provinsi pada 11 Februari 2022.
Rangkaian Perayaan Waisak di Candi Borobudur
Perayaan Waisak di Indonesia bukan sekadar satu hari. Rangkaian kegiatannya berlangsung selama beberapa hari dan melibatkan ritual-ritual yang sarat dengan makna spiritual. Simak urutan lengkapnya.
Pengambilan Api Dharma dari Mrapen
Beberapa hari sebelum puncak Waisak, rombongan umat Buddha dan bhikkhu berangkat ke Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Di sana terdapat Api Abadi Mrapen — sumber gas alam yang menyala terus-menerus tanpa pernah padam sejak zaman dulu. Api ini dianggap sakral. Dari sini, Api Dharma dinyalakan dan dibawa ke Candi Mendut untuk disakralkan, sebelum kemudian dibawa ke Borobudur. Api ini melambangkan cahaya pencerahan dan semangat yang tak pernah padam.
Pengambilan Air Berkah dari Umbul Jumprit
Pada waktu yang hampir bersamaan, prosesi lain berangkat ke Umbul Jumprit di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah — sebuah mata air alami yang dianggap suci. Air dari sumber ini diambil sebagai Air Berkah, lalu disakralkan di Candi Mendut. Air ini nantinya digunakan dalam ritual penyucian diri dan berkah.
Prosesi Kirab Waisak dari Candi Mendut ke Candi Borobudur
Pada hari puncak Waisak, prosesi kirab yang khidmat dimulai dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur — sejauh sekitar tiga kilometer. Ribuan umat Buddha dari seluruh Indonesia, bahkan dari mancanegara, berjalan bersama dalam prosesi ini. Para bhikkhu berpakaian jubah jingga berjalan di barisan terdepan, membawa Api Dharma dan Air Berkah. Umat berpakaian putih — melambangkan kesucian — mengikuti di belakang dengan sikap khidmat dan penuh penghayatan.
Dari berbagai negara pun ada yang ikut serta. Pada perayaan 2024, sebanyak 40 bhikkhu dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan Indonesia melakukan ritual thudong — perjalanan jalan kaki dari berbagai penjuru — menuju Borobudur sebagai bentuk latihan spiritual.
Detik-Detik Purnama Sidhi: Puncak Waisak
Puncak perayaan Waisak terjadi pada saat purnama sidhi — bulan purnama penuh yang jatuh pada jam, menit, dan detik yang sudah dihitung secara astronomis. Ribuan umat duduk bersila menghadap Candi Borobudur, memejamkan mata, dan tenggelam dalam meditasi dan doa bersama. Para pemimpin spiritual memimpin pembacaan paritta (doa-doa suci), mantra, dan sutra. Suasana malam itu sering dilukiskan sebagai salah satu pengalaman spiritual paling memukau yang bisa dirasakan di Indonesia.
Pelepasan Lampion Waisak
Tidak lama setelah detik-detik puncak Waisak, ribuan lampion kertas dinyalakan dan dilepaskan ke langit malam. Pemandangan ini menjadi salah satu momen paling indah dan paling banyak difoto dari seluruh kalender perayaan di Indonesia. Setiap lampion membawa doa dan harapan umat — untuk kedamaian dunia, untuk keluarga, untuk semua makhluk hidup. Langit di atas Borobudur berubah menjadi lautan cahaya yang bergerak perlahan naik ke langit hitam berbintang.
Pradaksina: Mengelilingi Candi
Ritual pradaksina adalah berjalan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali searah jarum jam dengan sikap anjali — telapak tangan digabungkan di depan dada sebagai penghormatan — sambil membaca paritta suci. Tiga putaran ini melambangkan penghormatan kepada Triratna (Tiga Permata): Buddha (guru), Dharma (ajaran), dan Sangha (komunitas para bhikkhu).
Tradisi Waisak di Vihara Seluruh Indonesia
Di luar Borobudur, umat Buddha di seluruh Indonesia merayakan Waisak di vihara-vihara lokal dengan ritual yang penuh makna. Berikut tradisi-tradisi yang umum dilakukan.
Umat mengunjungi vihara sejak pagi hari dan mengikuti kebaktian bersama. Mereka membawa persembahan berupa bunga, dupa, dan lilin — tiga persembahan yang masing-masing memiliki simbolisme. Bunga melambangkan ketidakkekalan hidup; dupa melambangkan wangi kebajikan yang menyebar ke segala arah; lilin melambangkan cahaya kebijaksanaan yang mengusir kegelapan kebodohan.
Sebagian besar umat mengenakan pakaian berwarna putih pada hari Waisak — warna yang melambangkan kemurnian hati dan niat yang bersih. Sikap penghormatan yang sering dilihat adalah anjali (telapak tangan digabungkan) dan melakukan sujud tiga kali di hadapan altar Buddha.
Pindapata: Bhikkhu Menerima Dana
Tradisi pindapata adalah ritual di mana para bhikkhu berjalan kaki dengan membawa mangkuk, dan umat meletakkan makanan atau persembahan ke dalam mangkuk tersebut. Tradisi ini berakar dari cara hidup para bhikkhu sejak zaman Buddha: mereka tidak memasak sendiri, melainkan bergantung pada kedermawanan umat. Bagi umat yang memberi, ini adalah kesempatan mengumpulkan kebajikan (merit). Bagi bhikkhu, ini adalah latihan kerendahan hati dan penerimaan tanpa pilah.
Meditasi dan Renungan Dharma
Hari Waisak adalah hari yang dianjurkan untuk memperdalam praktik meditasi. Banyak vihara menggelar sesi meditasi terpimpin yang terbuka untuk umum — termasuk untuk non-Buddhist yang ingin belajar. Pembacaan atau pendengaraan Dharma (khotbah tentang ajaran Buddha) juga menjadi bagian penting dari perayaan. Umat merenungkan Lima Sila Buddha: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, dan tidak mengonsumsi minuman keras.
Mandi Sang Buddha
Di banyak vihara, ada tradisi ritual penyiraman arca bayi Buddha dengan air bunga yang harum. Ritual ini melambangkan penyucian diri — membasuh segala kekotoran batin dengan air kebajikan. Ritual ini paling sering dilakukan oleh anak-anak, dengan bimbingan orang tua dan rohaniwan.
Waisak sebagai Simbol Toleransi di Indonesia
Di sebuah negara dengan mayoritas Muslim yang begitu besar, penetapan Waisak sebagai hari libur nasional adalah pernyataan kuat tentang komitmen Indonesia terhadap keberagaman dan toleransi. Setiap tahun, ribuan wisatawan — termasuk banyak yang non-Buddhist — datang ke Borobudur untuk menyaksikan perayaan Waisak. Mereka hadir bukan untuk merayakan secara keagamaan, melainkan untuk menghormati keindahan tradisi yang ada.
Di banyak daerah dengan komunitas Buddhist yang kecil, tetangga-tetangga dari agama lain sering ikut membantu mempersiapkan dekorasi vihara, menyumbang makanan, atau sekadar mengucapkan selamat Waisak. Ini adalah cerminan dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang bukan sekadar slogan, melainkan realita kehidupan sehari-hari.
Jumlah Umat Buddha di Indonesia
Berdasarkan data Sensus Penduduk 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS), umat Buddha di Indonesia berjumlah sekitar 2,06 persen dari total populasi — atau sekitar 5,5 juta jiwa. Konsentrasi umat Buddha terbesar berada di Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Sumatera Selatan. Komunitas etnis Tionghoa-Indonesia adalah kelompok penganut Buddha terbesar, meski agama Buddha juga dipeluk oleh sebagian masyarakat Jawa dan Bali.
Indonesia memiliki lebih dari 1.000 vihara yang tersebar di seluruh kepulauan. Organisasi payung umat Buddha Indonesia adalah WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) yang berada di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Kementerian Agama Republik Indonesia.
Tanggal Waisak dan Cara Perhitungannya
Waisak selalu jatuh pada purnama pertama di bulan Mei (atau terkadang Juni) setiap tahun, sesuai keputusan Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists) di Sri Lanka pada 1950. Di Indonesia, penentuan tanggal resmi Waisak mengikuti keputusan WFB dan dikonfirmasi melalui SKB tiga menteri.
- 2025: 12 Mei 2025 (Waisak 2569 BE)
- 2026: diperkirakan 31 Mei 2026 (Waisak 2570 BE)
- 2027: diperkirakan 20 Mei 2027 (Waisak 2571 BE)
Singkatan BE di belakang angka tahun adalah Buddhist Era — sistem penghitungan tahun dalam kalender Buddhis yang dimulai dari wafatnya Buddha Gautama pada 543 SM. Untuk mendapatkan tahun BE, tambahkan 543 pada tahun Masehi.
Pertanyaan Umum Tentang Hari Raya Waisak
Apa itu Tri Suci Waisak?
Tri Suci Waisak adalah sebutan perayaan Waisak di Indonesia yang memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama: kelahiran di Taman Lumbini (623 SM), pencerahan agung di Bodh Gaya (588 SM), dan wafat di Kusinara (543 SM). Ketiga peristiwa ini diperingati secara bersamaan setiap purnama di bulan Waisak.
Mengapa Waisak selalu dirayakan di Candi Borobudur?
Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia dan merupakan situs warisan dunia UNESCO. Tradisi perayaan Waisak di Borobudur sudah berlangsung sejak 1929, dan sejak 2022 status Borobudur sebagai pusat ibadah Buddha resmi diperkuat melalui nota kesepakatan antar kementerian. Selain nilai spiritualnya, Borobudur juga menjadi simbol kejayaan peradaban Buddha di Nusantara.
Apakah non-Buddhist boleh menghadiri perayaan Waisak di Borobudur?
Ya. Perayaan Waisak di Borobudur adalah acara terbuka yang menyambut semua pengunjung tanpa memandang latar belakang agama. Setiap tahun, ribuan wisatawan domestik dan mancanegara hadir untuk menyaksikan prosesi dan pelepasan lampion. Pengunjung diminta berpakaian sopan dan menghormati kekhusyukan prosesi keagamaan.
Apa makna lampion yang dilepaskan saat Waisak?
Pelepasan lampion adalah salah satu ritual paling ikonik dalam perayaan Waisak di Borobudur. Setiap lampion yang diterbangkan ke langit melambangkan doa, harapan, dan niat baik yang dipanjatkan kepada semua makhluk hidup. Lampion yang naik ke langit juga melambangkan pembebasan dari kekotoran batin dan pencapaian pencerahan.
Apakah Waisak hari libur nasional di Indonesia?
Ya. Waisak adalah hari libur nasional resmi di Indonesia, ditetapkan pertama kali melalui Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1983. Kantor pemerintah, sekolah, bank, dan sebagian besar perusahaan swasta tutup pada hari ini.
Sumber
1. "Sejarah Perayaan Waisak di Candi Borobudur, Sejak 1929 hingga Kini." Detik.com. Mei 2024. https://news.detik.com/berita/d-7353499/sejarah-perayaan-waisak-di-candi-borobudur-sejak-1929-hingga-kini
3. "Trisuci Waisak, 3 Peristiwa Penting dalam Sejarah Umat Buddha." Kompas.com. Mei 2024.
4. "7 Fakta Unik Perayaan Waisak Candi Borobudur." Kemenpar. https://kemenpar.go.id/berita/7-fakta-unik-perayaan-waisak-candi-borobudur
5. "Sejarah Waisak di Borobudur." Balai Konservasi Borobudur, Kemdikbud. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/sejarah-waisak-di-borobudur/
6. "Waisak 2025: Makna, Tradisi, dan Kegiatan Perayaan." Liputan6.com. Mei 2025. https://www.liputan6.com/news/read/6018977/waisak-2025-makna-tradisi-dan-kegiatan-perayaan
7. "Lusa Hari Raya Waisak Dipusatkan di Candi Borobudur." Tempo.co. Mei 2025. https://www.tempo.co/politik/lusa-hari-raya-waisak-dipusatkan-di-candi-borobudur
8. Badan Pusat Statistik. "Hasil Sensus Penduduk 2020." https://www.bps.go.id/
9. "Sejarah Singkat Dimulainya Peringatan Hari Raya Waisak di Indonesia." Batam Pos. Mei 2025.