Tahun Baru Islam (1 Muharram): Sejarah Kalender Hijriyah, Makna Hijrah Nabi, dan Peringatan di Indonesia
1 Muharram adalah hari pertama dalam kalender Hijriyah — sistem penanggalan Islam yang sudah digunakan lebih dari 14 abad. Di seluruh dunia Islam, hari ini dikenal sebagai Tahun Baru Islam atau Ra's al-Sanah al-Hijriyah. Di Indonesia, 1 Muharram adalah hari libur nasional resmi yang selalu bergeser tanggalnya setiap tahun — karena kalender Hijriyah adalah kalender lunar (bulan) murni yang tidak memiliki sinkronisasi dengan musim.
Tahun Baru Islam bukan perayaan euforia seperti Tahun Baru Masehi. Ini lebih merupakan momentum refleksi — mengenang peristiwa terbesar dalam sejarah awal Islam yang menjadi titik mula perhitungan kalender ini: Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah.
Kalender Hijriyah: Berawal dari Peristiwa Besar
Kalender Hijriyah tidak ada sejak zaman Nabi lahir. Sistem penanggalan ini baru ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, sekitar tahun 638 M (17 H). Ketika itu, terjadi kebingungan dalam korespondensi resmi negara Islam karena tidak ada sistem penanggalan yang seragam.
Khalifah Umar mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah. Beberapa usulan muncul: menggunakan tahun kelahiran Nabi, tahun wafat Nabi, atau tahun turunnya wahyu pertama. Akhirnya disepakati bahwa titik awal kalender adalah peristiwa Hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M. Peristiwa ini dipilih karena dianggap sebagai titik balik terpenting dalam sejarah Islam — momen ketika komunitas Muslim pertama berdiri dan Islam mulai tumbuh sebagai kekuatan sosial-politik.
Kata "Hijriyah" sendiri berasal dari kata "hijrah" yang berarti perpindahan atau emigrasi. Muharram dipilih sebagai bulan pertama karena merupakan bulan pertama dalam kalender Arab pra-Islam dan termasuk dalam empat bulan haram (bulan suci).
Hijrah: Lebih dari Sekadar Perpindahan Fisik
Dalam tradisi Islam, hijrah memiliki makna yang jauh melampaui perpindahan geografis. Nabi Muhammad SAW sendiri bersabda: "Al-muhajir man hajara ma nahallahu anhu" — "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah."
Ini berarti hijrah bisa bersifat batin: meninggalkan kebiasaan buruk, mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki akhlak, atau memulai babak baru yang lebih baik dalam kehidupan. Inilah mengapa Tahun Baru Islam lebih sering diisi dengan refleksi dan doa daripada pesta.
Bulan Muharram dan Hari Asyura
Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) yang disebutkan dalam Al-Qur'an (At-Taubah: 36) sebagai bulan yang dimuliakan. Pada bulan Muharram, segala amal ibadah memiliki ganjaran yang lebih besar — begitu pula dosa yang dilakukan.
Puncak spiritualitas bulan Muharram jatuh pada 10 Muharram — dikenal sebagai Hari Asyura. Puasa Asyura sangat dianjurkan berdasarkan hadis Nabi yang menyebutkan bahwa pada hari itu Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israel dari Fir'aun. Nabi menganjurkan puasa pada 9 dan 10 Muharram (atau 10 dan 11 Muharram) untuk membedakan diri dari tradisi Yahudi yang juga berpuasa pada hari itu.
1 Muharram di Indonesia
Di Indonesia, 1 Muharram ditetapkan sebagai hari libur nasional setiap tahunnya. Tanggal Muharram bergeser sekitar 10–11 hari lebih awal setiap tahun Masehi karena sifat kalender lunar.
- 1 Muharram 1447 H: 27 Juni 2025
- 1 Muharram 1448 H: 16 Juni 2026
Peringatan 1 Muharram di Indonesia umumnya diisi dengan:
- Pengajian dan ceramah tentang hijrah di masjid-masjid
- Pawai obor (arak-arakan malam) di banyak daerah — terutama di Jawa dan Sumatera
- Doa bersama dan dzikir menyambut tahun baru Hijriyah
- Kegiatan sosial dan pemberian santunan kepada anak yatim
Tradisi Daerah Menyambut 1 Muharram
Grebeg Suro — Yogyakarta dan Solo
Grebeg Suro adalah tradisi Jawa yang menyambut bulan Suro (nama Jawa untuk Muharram) dengan kirab budaya besar. Di Yogyakarta, prosesi Grebeg Suro melibatkan arak-arakan abdi dalem Keraton Yogyakarta mengelilingi kota, membawa gunungan hasil bumi yang kemudian diperebutkan warga. Di Solo, kirab pusaka Keraton Kasunanan menjadi pusat perhatian.
Tabuik — Pariaman, Sumatera Barat
Tradisi Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat, adalah peringatan Muharram yang paling unik dan spektakuler. Tabuik adalah replika besar kuda bersayap (Buraq) yang dibuat dari bambu, kayu, dan kertas — tingginya bisa mencapai 20 meter. Pada 10 Muharram, Tabuik diarak ke pantai dan dilemparkan ke laut — sebagai simbol pembebasan dari hal-hal buruk di tahun yang lalu.
Sumber
1. Al-Qur'an Surah At-Taubah (9): 36 (tentang bulan-bulan haram).
2. Sahih Al-Bukhari, Hadis tentang Asyura dan Puasa Muharram.
4. Sekretariat Kabinet RI. SKB 3 Menteri Hari Libur Nasional 2025. https://setkab.go.id/
5. Keraton Yogyakarta. Tradisi Grebeg Suro. https://www.kratonjogja.id/
6. Pemerintah Kota Pariaman. Tradisi Tabuik. https://pariamankota.go.id/