Tahun Baru Imlek di Indonesia: Sejarah, Tradisi Tionghoa-Indonesia, dan Perayaan dari Singkawang hingga Jakarta
Di Singkawang, Kalimantan Barat, ribuan orang berdesakan di jalanan untuk menyaksikan pawai Tatung — para medium spiritual yang kerasukan roh leluhur dan kebal senjata. Ratusan kilometer jauhnya, di Jakarta, Klenteng Kim Tek Ie berdiri sejak 1650 — tertua di Indonesia — menerima ribuan pengunjung yang datang bersembahyang dan membakar hio. Di Medan, keluarga-keluarga Tionghoa berkumpul menikmati makan malam reuni (mohe). Di Surabaya, barongsai berlenggak-lenggok di depan toko-toko yang dihias merah emas.
Itulah wajah Tahun Baru Imlek di Indonesia — perayaan yang sejak 2003 kembali diakui sebagai hari libur nasional setelah sempat dilarang selama lebih dari tiga dekade.
Sejarah Imlek: Lebih dari 4.000 Tahun
Tahun Baru Imlek atau Chūnjié (春节 — Festival Musim Semi) adalah perayaan Tahun Baru dalam sistem kalender lunisolar Tionghoa. Perayaan ini bermula lebih dari 4.000 tahun lalu pada zaman Dinasti Shang (1600–1046 SM), awalnya sebagai ritual untuk menyambut musim tanam baru dan menghormati leluhur.
Nama "Imlek" sendiri berasal dari dialek Hokkien — Im (阴, bulan) dan Lek (历, kalender). Secara harfiah berarti kalender bulan. Tanggal Imlek jatuh pada hari pertama bulan pertama dalam kalender lunisolar Tionghoa — biasanya antara akhir Januari hingga pertengahan Februari dalam kalender Masehi.
Setiap tahun dalam siklus 12 tahunan dilambangkan oleh salah satu dari 12 shio hewan: Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, dan Babi. Tahun 2025 adalah Tahun Ular Kayu, sementara 2026 adalah Tahun Kuda Api.
Komunitas Tionghoa di Indonesia: Sejarah Panjang
Komunitas Tionghoa sudah ada di Nusantara jauh sebelum penjajahan Belanda. Catatan tertua menyebut kehadiran pedagang Tionghoa di Jawa pada abad ke-7 M, semasa Kerajaan Sriwijaya. Migrasi besar-besaran terjadi pada abad ke-17 hingga ke-19 — kebanyakan dari provinsi Fujian, Guangdong, dan Hakka di China Selatan.
Hari ini, etnis Tionghoa berjumlah sekitar 3–4% dari total populasi Indonesia (sekitar 8–10 juta jiwa) — tersebar di seluruh provinsi, dengan konsentrasi terbesar di Kalimantan Barat, Jakarta, Sumatera Utara (Medan), Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung.
Era Larangan Imlek (1967–2000)
Halaman gelap sejarah Imlek di Indonesia dimulai pada 1967. Pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto menerbitkan Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967 — melarang segala bentuk ekspresi budaya Tionghoa di ruang publik, termasuk perayaan Imlek, pertunjukan barongsai, dan penggunaan aksara Tionghoa.
Selama 33 tahun, Imlek hanya bisa dirayakan secara diam-diam di dalam rumah. Klenteng-klenteng beroperasi dalam keterbatasan. Generasi muda Tionghoa-Indonesia tumbuh tanpa bisa mengenal warisan budaya leluhur mereka secara terbuka.
Barulah pada era Reformasi, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Inpres No. 14/1967 pada tahun 2000 dan menjadikan Imlek sebagai hari libur fakultatif. Kemudian Presiden Megawati Soekarnoputri secara resmi menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keppres No. 19 Tahun 2002, yang berlaku mulai 2003. Keputusan ini disambut haru dan sukacita oleh jutaan warga Tionghoa-Indonesia.
Tradisi Perayaan Imlek
Imlek bukan sekadar satu hari — ini adalah rangkaian perayaan panjang yang dimulai dari malam penutupan tahun lama dan berlangsung hingga Cap Go Meh (15 hari kemudian).
Malam Tahun Baru: Makan Malam Reuni
Malam sebelum Imlek adalah momen paling sakral dalam perayaan. Seluruh anggota keluarga berkumpul untuk makan malam reuni (mohe dalam bahasa Tionghoa-Indonesia). Hidangan yang tersaji bukan sembarangan — setiap makanan mengandung simbol kemakmuran dan keberuntungan.
Angpao: Amplop Merah Keberuntungan
Angpao (红包, hóngbāo) adalah amplop merah berisi uang yang diberikan oleh orang yang sudah menikah atau orang tua kepada anak-anak dan kerabat yang belum menikah. Warna merah melambangkan keberuntungan dan mengusir roh jahat. Di Indonesia, tradisi angpao sudah melampaui batas etnis — banyak warga non-Tionghoa pun menerima dan memberikan angpao sebagai tanda keakraban.
Barongsai dan Liong
Pertunjukan barongsai (singa) dan liong (naga) adalah daya tarik paling visual dari Imlek. Atraksi ini dipercaya mengusir roh jahat dan mendatangkan keberuntungan. Di pusat-pusat perbelanjaan, klenteng, dan kawasan pecinan di seluruh Indonesia, barongsai berlenggak-lenggok diiringi tabuhan gong dan tambur yang riuh.
Kembang Api dan Petasan
Suara keras kembang api dan petasan diyakini mengusir roh jahat dan energi negatif. Di Indonesia, tradisi ini sudah berlangsung berabad-abad — meski regulasinya semakin ketat seiring pertimbangan keselamatan dan ketertiban.
Perayaan Imlek Khas Indonesia
Singkawang: Kota Seribu Klenteng dan Festival Tatung
Kota Singkawang di Kalimantan Barat adalah pusat perayaan Imlek terbesar dan paling unik di Indonesia. Kota ini memiliki proporsi warga Tionghoa tertinggi di Indonesia — sekitar 42% dari total populasi. Singkawang dijuluki "Kota Seribu Klenteng" karena banyaknya tempat ibadah Tionghoa.
Puncak Imlek Singkawang adalah Festival Tatung pada hari Cap Go Meh — para medium (tatung) yang kerasukan roh leluhur mempertontonkan kekuatan supranatural mereka: berjalan di atas bara api, ditusuk besi tanpa luka, atau mengangkat benda berat dengan cara tidak lazim. Festival ini menarik ratusan ribu wisatawan dari seluruh Indonesia dan mancanegara.
Jakarta: Glodok dan Klenteng Tertua
Kawasan Glodok di Jakarta Barat adalah jantung pecinan ibu kota. Di sini berdiri Klenteng Jin De Yuan (Kim Tek Ie) yang dibangun pada 1650 — klenteng tertua di Indonesia. Saat Imlek, kawasan ini berdenyut dengan aktivitas: sembahyang di klenteng, pertunjukan seni, pameran, dan penjualan berbagai atribut Imlek.
Makanan Khas Imlek
- Kue keranjang (nian gao) — kue manis dari tepung ketan, melambangkan kemajuan dari tahun ke tahun
- Kue lapis — melambangkan berlapis-lapisnya rezeki
- Yee sang (yu sheng) — salad ikan segar yang "dilempar" bersama-sama sebagai tradisi keberuntungan
- Jeruk mandarin — simbol kemakmuran; wajib ada di setiap rumah
- Bakmi panjang umur — mie yang tidak boleh dipotong, melambangkan umur panjang
Jadwal Imlek 2025 dan 2026
Tahun Baru Imlek 2025: 29 Januari 2025 — Tahun Ular Kayu (2576 Kongzili)
Tahun Baru Imlek 2026: 17 Februari 2026 — Tahun Kuda Api (2577 Kongzili)
Sumber
1. Keppres No. 19 Tahun 2002 tentang Hari Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional.
2. Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967 (dicabut oleh Keppres No. 6 Tahun 2000 era Gus Dur).
3. Badan Pusat Statistik (BPS). Sensus Penduduk 2020. https://www.bps.go.id/
4. Pemerintah Kota Singkawang. Festival Cap Go Meh dan Tatung. https://singkawangkota.go.id/
5. Museum Sejarah Jakarta. Klenteng Jin De Yuan (Kim Tek Ie) 1650. https://museumsejarah.jakarta.go.id/
6. Sekretariat Kabinet RI. SKB 3 Menteri Hari Libur Nasional 2025. https://setkab.go.id/